Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: “Tuhanlah panji-panjiku!” (Keluaran 17:15) 

Di dalam Alkitab Perjanjian Lama muncul banyak nama Allah. Nama-nama itu mengungkapkan aspek-aspek atau sifat-sifat tertentu tentang pribadi Allah. Lewat pengujian iman Abraham kita mengenal Yehovah Jireh, dan lewat peperangan dengan orang Amalek kita belajar tentang Jehovah Nissi – TUHAN Panjiku.

Banyak orang Kristen bertanya-tanya di dalam hati; mengapa di dalam Alkitab ada banyak catatan tentang peperangan? Bukankah perang adalah tindakan yang negatif? Bukankah perang itu adalah tindakan saling membunuh? Mengapa Allah justru berpihak kepada bangsa Israel dalam berperang bahkan memberi kemenangan kepada mereka?

Ilmu antropologi menunjukkan bahwa peperangan sudah mewarnai sejarah manusia sejak awal. Pada masa awal peradaban, manusia hidup dalam kelompok yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan mata pencarian utama; berburu. Dalam pengembaraannya, konflik antar kelompok menjadi tidak terhindarkan bahkan akhirnya berkembang menjadi pola yang tidak bisa berubah lagi untuk ribuan tahun berikutnya. Kehidupan umat Allah di tengah berlangsungnya sejarah, adalah hal yang nyata/riil.

Ketika bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, maka mereka memasuki suatu dimensi kehidupan yang baru. Sekarang mereka tidak lagi menjadi budak, mereka sudah merdeka, dan harus berhadapan langsung dengan kekuatan lain yang akan menghadang mereka. Bangsa Amalek adalah musuh Israel yang pertama setelah mereka keluar dari Mesir. Dan peperangan pertama ini secara simbolik menyiratkan beberapa prinsip penting.
1. Bersandar pada TUHAN, bukan pada kekuatan kelompok. Di balik peperangan Israel, TUHAN-lah yang memberi kekuatan dan kemenangan. Tanpa Dia, bangsa Israel tidak punya kekuatan apa-apa.
2. Kemenangan ini, harus menjadi ingatan bagi mereka, bagi Yosua yang nanti akan memimpin mereka dalam peperangan lain, dan juga bagi kita yang membacanya hari ini. Pegang prinsip ini dalam setiap konteks kehidupan.
3. Kememangan akhir pasti di tangan Allah. TUHAN mengatakan bahwa Amalek akan dihapus namanya, tapi Musa seolah tahu bahwa peperangan dengan Amalek masih akan terus berlangsung. Maka di dalam setiap peperangan berikutnya, mereka harus memandang kepada TUHAN yang akan menjamin kemenangan akhir.