“Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah” (Roma 8:14)

Terorisme merebak kembali di beberapa wilayah dan Densus 88 berhasil menaklukkan sejumlah terduga teroris di beberapa wilayah tersebut. Kompolnas menilai keberadaan Detasemen Khusus (Densus) 88 anti teror sangat diperlukan untuk melindungi segenap warga negara. Artinya, keberadaan Densus 88 justru sangat dibutuhkan untuk melindungi segenap warga negara dari bahaya terorisme ini. Kompolnas beranggapan bahwa rasanya tidak ada alasan untuk membubarkan Densus 88,” kata Komisioner Kompolnas, M. Nasser, saat dihubungi detikcom, Sabtu (11/5/2013) malam. Sebab keberadaan dan kegiatan teroris mengancam kesatuan bangsa, merusak keamanan dan menelan korban jiwa, karena itu tidak boleh ditolerir.

Sama halnya kehidupan anak-anak Allah selalu diancam dan diperbudak oleh dosa dan cenderung hidup dalam daging. Paulus mengingatkan kepada anak-anak Tuhan, hanya Roh Kudus yang dapat melepaskan dan menghidupkan kita dari kehidupan kedagingan yang mematikan. “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Rm. 8:13). Hidup dalam daging istilah yang sangat buruk dan fatal dalam ranah kehidupan orang kristen. Ia disamakan dengan orang yang belum diselamatkan dan hidup dalam kebinasaan. “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging” (Rm. 8:5). Pusat hidupnya hanya untuk memuaskan daging. Apakah akibatnya? Pertama, mereka harus berhadapan dengan maut, dalam ayat 6 dikatakan “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Kedua, dalam ayat 7, keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, tidak ada kedamaian, sukacita dan hidup kekal. Ketiga, mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah (Rm. 8:8). “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal. 5:19-21 bnd Ef. 4:25-5:5), semua ini tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Hidup dalam Roh, adalah penegasan Paulus tentang sikap hidup yang harus ditempu anak-anak Allah. Karena kita milik Roh Kristus dan Roh itu diam dalam diri kita dan Roh itu menjadikan kita anak-anak Allah (Rm. 8:14-17). Jika kita hidup dipimpin Roh, maka kita akan memperoleh hidup karena hanya Roh yang memberi hidup. Orang yang dipimpin Roh adalah orang yang bersedia dibimbing Roh, bersedia berjalan bersama dengan Roh dan hidup menurut keinginan Roh. Hanya orang-orang yang mau hidup dipimpin Roh memampukan dia mematikan kedagingan dan hidup dalam kebenaran, kekudusan dan memancarkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal. 5:22-23).

Kontras hidup yang digambarkan Paulus antara hidup dalam daging dan hidup dalam Roh hendaknya dicermati secara rohani. Jika kita berusaha menjalani kekristenan kita menurut kekuatan kita, maka kita akan gagal memenuhi keinginan Roh. Nasihat Paulus adalah “Hiduplah oleh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging” dan “Jika kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Gal. 5:16, 25).

Disadur dari warta gereja GKA Gloria 19 Mei 2013.